RESUME JURNAL ETIKA BISNIS
ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
Paulus Lilik Kristianto
Dosen Fakultas Ekonomi UKRIM
Mail: paulus_lilik@yahoo.co.id
Dosen Fakultas Ekonomi UKRIM
Mail: paulus_lilik@yahoo.co.id
ABSTRACT
This paper discuss about the relation of business ethics with corporate social responsibility. Business Ethics and Corporate Social Responsibility are very importance for the successfull of corporate. Business ethics (also known as Corporate ethics) is a form of applied ethics or professional ethics that examines ethical principles and moral or ethical problems that arise in a business environment. It applies to all aspects of business conduct and is relevant to the conduct of individuals and business organizations as a whole. Discussion on ethics in business is necessary because business can become unethical, and there are plenty of evidences as in today on unethical corporate practices.
Corporate Social Responsibility (CSR) is a continuous commitment from a business world to act in ethic code and give the contribution toward the economic's development in local community or wider community in a row with the increasing of the living standar of the employees and their families. CSR is not merely a charity action that forces a company to consider every risks that will be taken by the stakeholder and also the effect toward the nature. This action will force a company to make a balance between the variant importance of the stakeholder on external corporate with the importance of owners, that is the stakeholder on internal of corporate.
Key words : Business Ethics, Corporate Social Responsibility, The balance importance of
Stakeholder a nd the owners.
PENDAHULUAN
Etika Bisnis (juga dikenal sebagai etika korporasi) adalah suatu bentuk etika terapan atau etika profesi yang mempelajari prinsip-prinsip etis dan moral atau masalah-masalah etika yang muncul dalam lingkungan bisnis (sumber: Wikipedia). Ini berlaku untuk semua aspek perilaku bisnis dan relevan dengan perilaku individu dan organisasi bisnis secara keseluruhan.
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan (sumber: Wikipedia). CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan.
Etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan dua permasalahan yang seringkali kurang diperhatikan oleh para pelaku bisnis karena itu dalam artikel ini akan dibahas bagaimana hubungan etika bisnis dengan tanggung jawab sosial perusahaan.
PENTINGNYA ETIKA BISNIS
Ada dua alasan: pertama, karena apa pun bisnisnya tidak mempengaruhi stakeholders dan kedua, karena setiap titik tindakan merupakan lintasan etis serta jalur tidak etis dimana keberadaan bisnis dibenarkan oleh alternatif etis yang bertanggung jawab memilih. Salah satu kondisi yang membawa etika bisnis ke permukaan adalah bahwa dari bisnis skala kecil, muncul kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan dan kemudian berkembang struktur perusahaan multinasional besar yang mampu mempengaruhi kehidupan sehari-hari dari masyarakat. Dengan semakin besarnya persaingan dalam dunia bisnis, perusahaan-perusahaan saling berlomba untuk dapat menjadi pemimpin pasar. Disinilah sangat rawan muncul praktik-praktik bisnis yang tidak etis demi memenangkan persaingan dalam industri.
ETIKA KEUANGAN
Keuangan menjadi disiplin terkait tentang masalah teknis seperti bagaimana mengoptimalkan hutang dan ekuitas pembiayaan, kebijakan deviden, dan evaluasi proyek-proyek alternatif investasi, seperti: penilaian opsi, future, derivatifefek, portofolio diversifikasi dll. Namun sering ada kebocoran ekonomi yang tidak bisa dijelaskan dengan teori siklus bisnis sendiri yang telah membawa Etika Keuangan ke permukaan.
Perusahaan dalam paradigma keuangan, dipandang sebagai jaringan yang kompleks dari hubungan kontraktual, sebagian besar implisit antar berbagai kelompok-kelompok kepentingan. Pada dasarnya, untuk tetap rasional di bidang keuangan adalah menjadi individualistik, materialistik, dan kompetitif. Bisnis adalah permainan yang dimainkan oleh individu, seperti halnya dengan semua permainan tujuannya adalah menang, dan menang adalah semata-mata diukur dari kekayaan materi. Seharusnya Etika Keuangan harus dilihat dari perspektif stakeholder, yaitu para pemangku kepentingan langsung dan seharusnya perusahaan tidak saja memperhatikan kepentingan pemegangsaham tetapi juga kepada semua pemangku kepentingan dan perusahaan mempunyai kewajiban terhadap hal-hal berikut: Keadilan dalam praktek perdagangan, kondisi perdagangan, kontraktor keuangan, praktek-praktek penjualan, jasa konsultasi, pembayaran pajak, audit internal, audit eksternal yang dibahas di dalamnya.
ETIKA MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Manajemen Sumber Daya Manusiamempunyai lingkup kegiatan-kegiatan: rekrutmen, seleksi, orientasi, penilaian kinerja, pelatihan dan pengembangan, hubungan industrialdan kesehatan dan keselamatan kerja, masalah-masalah di mana etika sangat penting. Praktik di lapangan sejak perusahaan beroperasi dikelilingi oleh kepentingan pasar yang commodify dan instrumentalizesegalanya demi keuntungan mengklaim atas nama pemegang saham, dapat diramalkan bahwa akan ada peserta klaim etika Sumber Daya Manusia.
Diskusi tentang isu-isu etis yang mungkin timbul dalam hubungan kerja, termasuk etika diskriminasi, dan hak-hak karyawan dan tugas yang sering terlihat di teks etika bisnis. Sementara beberapa ahli berpendapat bahwa ada hak-hak asasi tertentu seperti tempat kerja hak untuk bekerja, hak atas privasi, hak harus dibayar sesuai dengan nilai yang setara, hak untuk tidak menjadi korban diskriminasi, yang lain mengklaim bahwa hak tersebut dapat dinegosiasikan Etika dalam wacana SDM sering mengurangi perilaku etika perusahaan seolah-olah mereka mendapatkan amal dari perusahaan bukan hak karyawan.
ETIKA PEMASARAN
Etika dalam pemasaran berkaitan dengan prinsip-prinsip, nilai-nilai dan/atau cita-cita dimana pemasar (dan lembaga-lembaga pemasaran) harus bertindak. Etika Pemasaran seperti disiplin induknya, adalah daerah yang diperdebatkan. Diskusi tentang etika pemasaran berfokus pada dua masalah utama, yaitu: pertama adalah perhatian secara filsafati seperti Milton Friedman dan Ayn Rand mengatakan bahwa etika dalam pemasaran adalah memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham, dan yang keduaadalah dari fokus bisnis praktik-transaksi yang berpendapat bahwa pemasaran bertanggung jawab kepada konsumen dan para pemangku kepentingan sama seperti ia bertanggung jawab kepada para pemegang saham.
ETIKA PRODUKSI
Etika bisnis biasanya berkaitan dengan tugas sebuah perusahaan untuk memastikan bahwa produkdan proses produksi tidak menyebabkan kerusakan. Beberapa dilema lebih akut di daerah ini muncul dari kenyataan bahwa biasanya ada tingkat bahaya dalam setiap produk atau proses produksi dan sulit untuk menentukan tingkat kebolehan, atau tingkat kebolehan mungkin tergantung pada keadaan teknologi yang berubah, pencegahan atau mengubah persepsi sosial risiko yang dapat diterima.
ETIKA TEKNOLOGI
Komputer dan World Wide Web adalah dua penemuan paling penting abad kedua puluh. Ada banyak isu-isu etis yang timbul dari teknologi ini. Sangat mudah untuk mendapatkan akses ke informasi. Hal ini menyebabkan data mining, pemantauan tempat kerja, dan invasi privasi. Teknologi medis telah ditingkatkan juga. Perusahaan farmasi memiliki teknologi untuk memproduksi obat. Obat ini dilindungi oleh hak paten dan tidak ada obat generik yang tersedia. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan etis. Oleh karena itu perlu adanya kode etik khusus dalam dunia obat. Perlu dijamin adanya obat generik yang bisa dijangkau oleh masyarakat.
ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
Saat ini yang menjadi perhatian terbesar dari perusahaan kepada masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah menjadi berita utama surat kabar. Peraturanpemerintahpada beberapa negaramengenai lingkungan hidupdan permasalahan sosial semakin tegas, juga standar dan hukum seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan negara pembuat peraturan (misalnya peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa). Beberapa investordan perusahaam manajemen investasitelah mulai memperhatikan kebijakan Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)dalam membuat keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsible investing.
PENTINGNYA TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
Skala dan sifat keuntungan dari Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) berbeda-beda tergantung dari sifat perusahaan tersebut. Banyak pihak berpendapat bahwa amat sulit untuk mengukur kinerja CSR, walaupun sesungguhnya cukup banyak literatur yang memuat tentang cara mengukurnya. Literatur tersebut misalnya metode "Empat belas poin balanced scorecard oleh Deming. Literatur lain misalnya Orlizty, Schmidt, dan Rynes yang menemukan suatu korelasi positif walaupun lemah antara
kinerja sosial dan lingkungan hidup dengan kinerja keuangan perusahaan. Kebanyakan penelitian yang mengaitkan antara kinerja CSR (corporate social responsibility) dengan kinerja finansial perusahaan (corporate financial performance) memang menunjukkan kecenderungan positif, namun kesepakatan mengenai bagaimana CSR diukur belumlah lagi tercapai. Mungkin, kesepakatan para pemangku kepentingan global yang mendefinisikan berbagai subjek inti (core subject) dalam ISO 26000 Guidance on Social Responsibility--direncanakan terbit pada September 2010--akan lebih memudahkan perusahaan untuk menurunkan isu-isu di setiap subjek inti dalam standar tersebut menjadi alat ukur keberhasilan CSR.
kinerja sosial dan lingkungan hidup dengan kinerja keuangan perusahaan. Kebanyakan penelitian yang mengaitkan antara kinerja CSR (corporate social responsibility) dengan kinerja finansial perusahaan (corporate financial performance) memang menunjukkan kecenderungan positif, namun kesepakatan mengenai bagaimana CSR diukur belumlah lagi tercapai. Mungkin, kesepakatan para pemangku kepentingan global yang mendefinisikan berbagai subjek inti (core subject) dalam ISO 26000 Guidance on Social Responsibility--direncanakan terbit pada September 2010--akan lebih memudahkan perusahaan untuk menurunkan isu-isu di setiap subjek inti dalam standar tersebut menjadi alat ukur keberhasilan CSR.
PENUTUP
Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) merupakan kunci keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang. Keduanya merupakan dua hal yang sama pentingnya dilakukan oleh perusahaan apapun bisnisnya. Kritik atas CSR akan menyebabkan suatu alasan dimana akhirnya bisnis perusahaan dipersalahkan. Contohnya, ada kepercayaan bahwa program CSR seringkali dilakukan sebagai suatu upaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas masalah etika dari bisnis utama perseroan. Karena itu program CSR yang dijalankan perusahaan harus dijalankan bersamaan dijalankannya Etika Bisnis oleh perusahaan.
Mengutip dari makalah Dr. Chris Marantika dalam Seminar Ekonomi Pancasila yang diselenggar akan Universitas Gadjah Mada, dikemukakan bahwa peranan etika dihubungkan dengan dunia bisnis dengan tanggung jawab sosial perusahaan adalah keseimbangan dalam prinsip, praktek, pendapatan maupun pembagian hasil Prinsip keseimbangan yang utama adalah keseimbangan di antara azas ”kasih kepada sesama manusia” dan ”kasih kepada diri sendiri”. Kecenderungan mencari kenikmatan pribadi yang berlebihan dapat dijinakkan oleh hadirnya ”kasih kepada sesama manusia”. Sedangkan kecenderungan untuk mencari identitas individu dapat dinetralisir sejauh penjangkauan potensi tertinggi namun tidak dengan berpijak di atas puing-puing kehancuran sesama. Haruslah dipelihara keseimbangan di antara nilai-nilai individu dan nilai-nilai masyarakat, di antara kontrol dan kebebasan, di antara kebutuhan pribadi dengan kebutuhan masyarakat.
Perusahaan yang melaksanakan Tanggung Jawab Sosial belum tentu menjalankan Etika Bisnis dengan baik, kalau pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial itu disertai dengan motivasi yang tidak baik. Sebaliknya perusahaan yang melaksanakan Etika Bisnis dengan baik pastilah juga akan melaksanakan Tanggung Jawab Sosialnya dengan baik. Jadi Etika Bisnis harus menjadi motor penggerak dilaksanakannya Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

0 komentar:
Posting Komentar